Gadget Berdampak Buruk, Batasi Gadget terhadap Anak

- 27 November 2021, 12:35 WIB
 Ilustrasi anak-anak. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mengungkap satu dari tiga anak Indonesia alami anemia, cara mencegahnya adalah memenuhi asupan gizi. /Pixabay/Bessi
Ilustrasi anak-anak. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mengungkap satu dari tiga anak Indonesia alami anemia, cara mencegahnya adalah memenuhi asupan gizi. /Pixabay/Bessi /

Indria Laksmi Gamayanti menyebutkan bahwa banyak anak-anak yang mengalami berbagai keluhan akibat perubahan proses pembelajaran menjadi daring.

Hal tersebut juga ditemukan oleh Satgas IPK Indonesia untuk penanggulangan Covid-19. "Banyak anak yang cemas harus menyesuaikan diri, terlebih untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka sulit sekali untuk menyesuaikan diri dengan sistem belajar online,” tuturnya.

Sebagai psikolog klinis, pihaknya mengatakan bahwa telah melakukan sejumlah upaya untuk menjawab permasalahan tersebut seperti melakukan konseling melalui orang tua dan guru, serta melakukan terapi secara langsung pada anak-anak, baik secara daring maupun luring.

“Walaupun (saat ini) kita terpaksa online, tetapi kita bisa mengajak beberapa remaja untuk berdiskusi bersama kemudian dipandu, sehingga mereka juga bisa menceritakan pengalamannya dan bermain bersama secara daring,” katanya.

Meski demikian, ia mendorong agar anak-anak dapat melakukan aktivitas-aktivitas luar ruangan yang lebih banyak dengan mengikuti protokol kesehatan, sehingga proses tumbuh-kembang anak tidak terganggu.

“Bagaimana pun juga keterampilan untuk bersosialisasi secara langsung ini juga menjadi lebih penting dan akan berkembang menjadi lebih banyak, ketika kita bertemu langsung, empati juga lebih terasah,” katanya.

Sementara itu, Psikolog Klinis dan Forensik Adityana Kasandravati Putranto mengatakan bahwa situasi pandemi telah menghadang aktivitas tatap muka dan mengharuskan anak-anak berinteraksi melalui gadget, serta hanya berdiam diri di rumah.

Meski demikian, orang tua juga dapat mendorong anak-anak untuk melakukan permainan yang bersifat sportivitas seperti olahraga atau permainan, serta budaya lokal yang mengandung nilai-nilai sosial, sehingga kemampuan berempati dan bersosialisasinya dapat terasah.

“Anak-anak bisa mengembangkan kemampuan empati itu juga bergantung apa yang dia lihat sepanjang masa kehidupannya,” Pungkasnya.*** (Mutia Yuantisya/ Pikiran rakyat)

Halaman:

Editor: Mursidah, SE.

Sumber: Pikiran Rakyat


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah